Perselisihan Gabil dan Habil

11 09 2008

Nabi Adam dan Hawa adalah pasangan manusia pertama di bumi. Mereka hidup tentram dan bahagia sambil mengolah dan memanfaatkan bumi dengan sebaik-baiknya. Mereka bertani juga menggembaia ternak.

Atas kehendak Allah, Hawa memiliki banyak sekali anak, yang kesemuanya lahir secara berpasangan. Kembar dua, laki-laki dan perempuan. Begitu seterusnya, hingga menjadi banyaklah manusia bertebaran di muka bumi ini pada akhirnya.

Diantara banyaknya anak Adam dan Hawa ada dua orang anak lelaki yang amat berbeda sifat dan perangainya. Nama mereka Habil dan Qabii. Habil adalah seorang pemuda yang santun, senang bekerja keras dan sangat taat beribadah. Sementara Qabil seperti kebalikannya. Ia kasar, pemalas dan enggan beribadah.

Pada suatu hari mereka berdua berselisih akan suatu urusan. Karena tidak jua mendapat titik temu penyelesaian masalah, maka mereka mengadu kepada ayah mereka Adam a.s.

“Berkurbanlah kalian berdua.” Perintah Adam. “Mana diantara kedua kurban kalian yang diterima oleh Allah maka dialah yang benar.”

Maka Habil dan Qabil pun berkurban. Habil berkurban dengan penuh keikhlasan dan ketaqwaan. Dipilihnya untuk kurbannya, segala yang terbaik dari apa yang dimilikinya.

Sementara itu Qabil berkurban dengan setengah hati. Enggan baginya mengurbankan pilihan terbaik dari miliknya karena ia merasa sayang melepaskannya. Maka kemudian Allah pun berketetapan menerima kurban Habil, sehingga ia bersuka cita seraya bersukur kepada Allah.

Mengetahui bahwa kurbannya tidak diterima, panaslah hati Qabil. Syetan yang telah bersumpah akan mengajak manusia, anak cucu Adam, ke dalam neraka mulai meniupkan api kemarahan di hati Qabil. Maka tumbuh suburlah rasa dengki dan hasad dalam dirinya.

“Akan kubunuh kau,” ancam Qabil pada saudaranya, Habil, dengan amarah menggelegak di dada.

Habil terkejut. “Mengapa engkau marah Qabil? Bukankah Allah hanya akan menerima kurban dari hamba-hambaNya yang bertaqwa?” jawab Habil berusaha menyadarkan saudaranya.

“Begitupun, aku akan tetap membunuhmu,” ungkap Qabil pula.

“Wahai saudaraku, kalau engkau telah berketetapan ingin membunuhku, maka disaat engkau mengangkat tanganmu untuk membunuhku maka aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk balas membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Dan kalau engkau benar-benar ingin berbuat zalim dengan membunuhku, maka akan kubiarkan engkau pulang membawa dua dosa sekaligus. Dosa karena membunuh aku dan dosa dirimu sendiri. Dan jikalau itu sampai terjadi, maka ingatlah Qabil, engkau akan masuk ke dalam neraka. Karena neraka itulah tempat kembalinya orang-orang yang zalim.” tegas Habil.

Mendengar perkataan Habil, kemarahan Qabil bukannya mereda tetapi tambah bergelegak. Saudaranya itu telah menunjukkan padanya bahwa perilakunya itu adalah perilaku orang zalim, tetapi ia tidak juga menyadarinya. “Kurang ajar sekali,” pikir Qabil. “Ia mengatakan tempatku di neraka. Benar-benar mencari mati dia rupanya.”

Hawa nafsu Qabil sudah menguasai jiwanya. Dalam pandangannya saat itu, kelihatannya enteng saja tindakan membunuh seorang saudara. Maka dengan cepat dibunuhnyalah saudaranya itu sehingga roboh ke tanah. Namun begitu jasad Habil menyentuh bumi, seketika terbukalah mata hati Qabil, dan ia pun terkejut menyadari hasil perbuatannya.

“Celaka aku,” desisnya seraya menatap tubuh saudaranya yang terbujur kaku. Penyesalan muncul merambat di dalam hatinya. “Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?” pikir Qabil kebingungan.

Memang sebelum itu Qabil belum pernah melihat dan mengetahui tata cara mengurus jenazah. Maka untuk beberapa waktu, ia hanya menatap dan meratapi mayat saudaranya lekat-lekat. Lalu, atas izin Allah, seekor burung gagak hinggap di tanah didekat Qabil berada dan mulai menggali-gali tanah dengan paruhnya. Gagak itu terus menggali dan kemudian menguburkan bangkai di dalam lubang tempat galian.

Qabil memperhatikan gagak itu dengan takjub. Seketika iapun mendapat pengetahuan tentang bagaimana seharusnya mengurus sesosok jenazah.

Dengan gemetar, digalinya tanah dan dikuburkannya mayat saudaranya itu. Lalu setelah selesai menguburkan Habil, Qabil terduduk dipinggir kuburan itu. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi setelah ini. Yang ia tahu, setelah membunuh Habil, jiwanya ternyata tak jua kunjung menjadi tentram. Bahkan ia merasakan ketakutan yang teramat besar.

Karena kekejiannya itu maka Allah mengelompokkan Qabil kedalam kelompok yang mendapat kerugian besar di dunia maupun di akhirat. Di dunia, Qabil merugi karena telah memutuskan tali persaudaraan dan mendapat murka ayah, ibu serta saudara-saudaranya yang lain. Sementara di akhirat ia termasuk kelompok orang-orang zalim yang menjadi penghuni neraka. Naudzubillahi min dzalik.

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: