Pesan Sebuah Tulang

12 09 2008

 

Sudah berhari-hari orang Yahudi itu berjalan menuju Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar bin Khattab, Amirulmukminin. Ia banyak mendengar kabar bahwa bahwa Amirulmukminin seorang yang terkenal bersungguh-sungguh menegakkan keadilan. Jauh-jauh ia datang dari Mesir dengan sebuah harapan, Khalifah mau memperhatikan nasibnya yang tertindas.

Baru ketika matahari condong ke barat, ia tiba di Madinah. Walaupun badannya terasa letih, namun air mukanya tampak berseri. Ia gembira telah sampai di negeri Amirulmukminin yang aman. Dengan tergopoh-gopoh, orang Yahudi itu memasuki halaman rumah Umar bin Khattab, lalu meminta izin pada prajurit yang sedang berjaga.

“Jangan-jangan…..Khalifah tidak mau menerimaku….,” katanya dipenuhi rasa cemas. Ia menunggu di luar pintu. Prajurit masuk menemui khalifah Umar.

“Wahai Amirulmukminin, ada orang Yahudi ingin menghadap Tuan” sahut prajurit. “Bawalah ke hadapanku,” Perintah Khalifah.

Orang Yahudi pun masuk disertai pengawal. Ada ketenangan di hati orang Yahudi ketika melihat Khalifah yang begitu lembut dan perhatian. Bertambah terperanjat orang Yahudi itu, ternyata Amirulmukminin menjamunya dengan aneka makanan dan minuman.

“Saat ini kau adalah tamuku, silahkan nikmati jamuannya,” sambut Khalifah. Rupanya benar…..apa yang kudengar tentang Khalifah, kata orang Yahudi dalam Hati.

Setelah dijamu layaknya tamu dari jauh, Khalifah meminta kepada orang Yahudi untuk menyampaikan maksud kedatangannya. “Ya Amirulmukminin, saya ini orang miskin…,” kata orang Yahudi memulai pembicaraan. Amirulmukminin mendengarkannya dengan penuh perhatian. “Di Mesir, kami punya sebidang tanah,” lanjut orang Yahudi.

“Ya..lalu, ada apa? Tanya Amirulmukminin. “Tanah itu satu-satunya milik saya yang sudah lama saya tinggali bersama anak dan istri saya. Tapi gubernur mau membangun Masjid yang besar di daerah itu. Gubernur akan menggusur tanah dan rumah saya itu….,” tutur orang Yahudi sedih, matanya berkaca-kaca. “Kami yang sudah miskin ini mau pindah kemana? Jika semua milik kami digusur oleh gubernur…..tolonglah saya yang lemah ini, saya minta keadilan dari Tuan.”

Orang Yahudi memohon dengan memelas. “Oh, begitu ya? Tanah dan rumahmu mau digusur oleh gubernurku,” kata Amirulmukminin mengangguk-angguk.

Khalifah Umar tampak merenung. Ia sedang berpikir keras memecahkan masalah yang dihadapi orang Yahudi itu.

“Kau tidak bermaksud menjual menjual rumah dan tanahmu, hai Yahudi?” tanya Khalifah.

“Tidak!” orang Yahudi menggelengkan kepalanya.

“Sebab cuma itulah harta kami. Saya tidak rela melepasnya kepada siapapun….,” Orang Yahudi tetap pada pendiriannya.

“Baik-baik, aku akan membantumu,” kata Amirulmukminin. Hati orang Yahudi merasa lega karena Amirulmukminin mau membantu kesusahannya.

“Hai, Yahudi,” kata khalifah kemudian. “Tolong ambilkan tulang di bak sampah itu!” perintahnya.

“Maaf, Tuan menyuruh saya mengambil tulang itu….?” tanya orang Yahudi ragu. Ia tidak mengerti untuk apa tulang yang sudah dibuang harus diambil lagi. Namun, ia menuruti juga perintah Khalifah.

“Ini tulangnya, Tuan. “Orang Yahudi menyerahkan tulang unta kepada khalifah.

Lalu, Khalifah Umar membuat garis lurus dan gambar pedang pada tulang itu.

“Serahkan tulang ini pada gubernur Mesir!” kata Amirulmukminin lagi.

Orang Yahudi menatap tulang yang ada. Garis lurus dan gambar pedangnya itu. Ia tidak puas.

Kedatangannya menghadap khalifah untuk mendapat keadilan, tetapi khalifah hanya memberinya tulang untuk diserahkan kepada gubernur.

“Ya Amirulmukminin, jauh-jauh saya datang minta tuan membereskan masalah saya, tapi tuan malah memberi tulang ini kepada gubernur…?” sahut orang yahudi.

“Serahkan saja tulang itu!” jawab khalifah pendek. Orang yahudi tidak membantah lagi. Iapun bertolak ke mesir dengan dipenuhi beribu pertanyaan dikepalanya.

“Aneh…. Khalifah Umar menyuruhku untuk memberikan tulang ini pada gubernur….,” gumamnya sepanjang perjalanan ke negerinya.

Setibanya di mesir, orang yahudi bergegas menuju kediaman gubernur.

“Wahai Tuan Gubernur, saya orang yahudi yang tanahnya akan kau gusur itu,“ kata orang yahudi.

“Oh kau rupanya., ada apa lagi?” kata gubernur.

“Saya baru saja menghadap Amirulmukminin,” kata orang yahudi.

“Lantas ada apa?”

“Saya disuruh memberikan tulang ini ….” orang yahudipun segera menyerahkan tulang onta ke tangan gubernur.

Diperiksanya tulang itu baik-baik. Wajah gubernur berubah pucat. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengucur di dahinya ketika melihat gambar pada tulang itu. Sebuah garis lurus dan gambar pedang yang dibuat khalifah Umar sudah membuat hati gubernur ketakutan bukan main.

“Hai, pengawal!” tiba-tiba ia berteriak keras.

“Serahkan tanah orang yahudi ini sekarang juga! Batalkan rencana menggusur rumah dan tanahnya! Kita cari tempat lain untuk membangun masjid,” kata gubernur.

Orang yahudi menjadi heran dibuatnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan perubahan keputusan gubenur yang akan mengembalikan tanah miliknya. Hanya dengan melihat tulang yang bergambar pedang dan garis lurus dari khalifah tadi, gubernur tampak sangat ketakutan.

“Hai,, Yahudi! Sekarang juga ku kembalikan tanah dan milikmu. Tinggallah engkau dan keluargamu disana sesuka hati….,” sahut gubernur terbata-bata.

Pesan dalam tulang itu dirsakan gubernur seakan-akan khalifah Umar berada dihadapannya dengan wajah yang amat marah. Ya! Gubernur merasa seolah-olah dicambuk dan ditebas lehernya oleh Amirulmukminin.

“Tuan Gubernur ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi….? Kenapa tuan tampak ketakutan melihat tulang yang ada garis lurus dan gambar pedang itu….? Padahal Amirulmukminin tidak mengatakan apa-apa?” tanya orang yahudi masih tak mengerti.

“Hai, Yahudi. Tahukah kau? Sesungguhnya Amirulmukminin sudah memberi peringatan keras padaku lewat tulang ini,” kata Gubernur.

Orang yahudi bertambah heran saja.

Sesungguhnya tulang ini membawa sebuah pesan peringatan. Garis lurus, artinya Khalifah Umar memintaku agar aku sungguh-sungguh menegakkan keadilan terhadap siapapun. Dan gambar Pedang, artinya kalau aku tidak berlaku adil, maka khalifah akan bertindak. Aku harus menjadi penguasa yang adil sebelum aku yang menjadi tulang belulang….” Gubernur menceritakan isi pesan yang terkandung dalam tulang onta itu.

Kini orang yahudi pun mengerti semuanya. Betapa ia sangat kagum kepada Amirulmukminin yang sungguh-sungguh memperhatikan nasib orng tertindas seperti dirinya meskipun ia bukan dari kaum muslimin.

“Tuan Gubernur, saya sangat kagum pada Amirulmikminin dan keadilan yang diberikan pemerintah islam. Karenanya, saya ingin menjadi orang Muslim. Saat ini saya rela melepaskan tanah itu karena Allah semata.”
Tanpa ragu sedikitpun orang yahudi itu langsung bersahabat dan merelakan tanahnya untuk didirikan sebuah masjid.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: